Sudah berapa lama ya tidak benar-benar menikmati musik seperti pagi ini? Lagunya berjudul Lagi dan Lagi milik Andra and The Backbone. Gitarnya... super, bikin rindu mendengar nyanyian teman-teman di Jogja. KRST, MarshMellow. Memenuhi telinga sekaligus membuat nyaman. Luar biasa pokoknya :) I miss you guys!
Tuesday, January 26, 2016
Saturday, December 19, 2015
Cerita kepada Angin
'Aku lelah. Kamu lelah. Mereka lelah. Lalu, siapa yang akan berjuang?' Kataku pada angin.
---
Aku ingin pergi, sungguh. Aku bukan orang yang kuat mental; aku tidak tahan tekanan. Suara balon meletus saja bisa membuatku menangis sejadi-jadinya. Aku tidak pandai berbohong, apalagi membuat skenario. Memangnya aku siapa, Hanung Bramantyo? Chairil Anwar? Mengutarakan perasaanku saja aku tak bisa.
Ah... mungkin benar kata otak kiriku. Percuma bicara pada orang tuli. Menjelaskan sepanjang apapun tetap tak akan terdengar. Mungkin kamu butuh melihat, supaya kamu paham. Ya, aku paham sekarang.
Tapi tidak apa kan, kalau aku ingin bercerita pada angin? Mungkin saja ia membawa ceritaku padamu, lalu kamu tergelitik untuk tau lebih jauh, dan akhirnya memahami.
---
Ini bukan masalah cinta. Aku hanya ingin membangun rumah tempatku tumbuh. Kamu kebetulan berada di dalamnya, maka aku ingin kamu membangun bersamaku. Sekali waktu kamu sedang kelelahan, bergeserlah sedikit. Beri ruang untuk mereka yang masih punya banyak energi. Jangan bekerja ketika sedang lelah. Ibuku bilang itu buruk bagi kesehatan, begitu pula hasil bangunannya.
Oh ya. Rumah kita kini tinggal puing, baru saja kemarin terkena badai topan. Kamu dengar beritanya? Aku yakin kamu tau.
Aku ingin segera membangun rumah kita lagi, kau mau ikut? Aku tunggu ya.
Yogyakarta,
19 Desember 2015
Dini hari menjelang Subuh
Wednesday, August 5, 2015
Semoga?
Aku tidak mengatasnamakan orang lain, hanya diriku sendiri.
Kadang aku ingin pergi, kemudian kembali untuk melihatmu baik-baik saja. Dan aku baik-baik saja. Kita berpapasan, saling menyembunyikan senyum lega karna kembali diizinkan bertemu.
Kadang aku ingin tinggal, berharap melihatmu berhenti berpikir tentang diri sendiri, sedikit demi sedikit menjadikan dirimu sosok yang ada di dalam kepalaku. Kemudian aku bahagia, dan kamu bahagia melihat aku bahagia.
Kadang juga, aku berpikir untuk melupakan apa yang menjadi keinginanku. Kemudian bersyukur telah dipertemukan denganmu, sebagaimana adanya.
Sayangnya, ini waktu yang lain. Dan saat ini aku sedang bimbang. Kisah macam apa yang menanti kita di kemudian hari? Aku tidak ingin menerka. Aku hanya berharap ini adalah sebuah fase, yang sebentar lagi akan berakhir.
Banjarnegara, 5 Agustus 2016
Sambil menyusuri jalan gelap menuju mushalla
Friday, July 10, 2015
Ketika Petang Sudah Pergi dan Malam Mengambil Alih
Di kejauhan
Jangkrik bernyanyi
Adzan berkumandang
Kembang api berletusan
Di sampingku
Televisi berbicara
Orang-orang bercengkrama
Kaki-kaki berlalu lalang
Sementara itu
Aku memandangi layar telepon genggam
Membunuh waktu hingga tak sempat berurusan dengan mereka
Begitulah.
Banjarnegara, 10 Juli 2015
Monday, June 1, 2015
Sekelumit.
Kadang...
Aku ingin menjadi asura, supaya tangan-tanganku cukup menjangkau hal yang selama ini tak mampu kujangkau.
Aku ingin menjadi hulk, supaya kekuatanku cukup mengangkat beban yang saat ini tak mampu kupikul.
Aku ingin menjadi naruto, supaya bisa kukerjakan banyak hal dalam satu waktu.
Tapi kalau begitu, aku akan menjadi begitu sempurna dan tidak lagi membutuhkanmu: sesuatu yang tidak mampu aku bayangkan.
Aku hanya ingin melihatmu berusaha. Hanya ingin kamu lari bersamaku. Tidak perlu jadi juara pertama, nak. Cukup berusaha sepenuh hatimu, kemudian aku akan menjadi manusia paling mampu dan berbangga.
Yogyakarta, awal Juni 2015
Di sebuah tempat penuh darah bertumpah.
Pinta
Malam..
Tolong sampaikan pada petang aku sedang merindu
Pastikan ia tau aku terus menanti ia datang dengan jingganya yang kemilau, meski hanya dapat kupandangi dari jauh.
Angin..
Tolong sampaikan pada hujan aku selalu mencinta
Pastikan ia tau aku terus menunggunya kembali tertuang, meski hanya dapat kunikmati dari balik jeruji jendela.
Satu lagi..
Tolong sampaikan pada penjaga hatinya bahwa aku berdiam di sana
Lelap, menantinya bangunkanku dari mimpi tentang masa depan yang tak kunjung tiba.
Yogyakarta, 8 Juni 2015
Wednesday, April 29, 2015
Penangkap Mimpi
Malam itu, kita singgah ke suatu tempat yang hening. Mengasingkan diri dari apa yang kamu sebut takdir. Jalan hidup. Kenyataan. Melarikan diri dari desing, dengung, dan hentakan-hentakan memekakkan telinga. Di tempat itu, yang ada hanya sisa-sisa suara dan beberapa orang berlalu lalang.
'Di sini sudah cukup', ucapmu.
Aku menggelar alat-alat yang kubawa di atas meja setengah lingkaran; hendak kubuat sebuah penangkap mimpi. Aku menimbang bahan mentah, lalu kurajut baik-baik dengan tali-tali dan jarum. Harus cantik, pikirku.
Selagi aku sibuk dengan penangkap mimpi di hadapanku, aku terus mengamatimu dari sudut mataku. Kau sudah mulai menganyam milikmu. Kau membuat yang lebih indah, tapi aku tidak iri. Aku cukup senang bisa menjadi orang pertama yang melihat penangkap mimpimu.
'Aku jadi ingat. Sudah lama kita tidak bicara, ya. Terakhir kali mungkin tentang kenyataan. Kita tidak lagi bicara tentang mimpi. Mimpi apa yang ingin kau tangkap?'
Kuamati kamu yang berhenti. Aku ingin bicara denganmu. Terlalu banyak yang aku lewatkan. Terlalu banyak hari yang kita lewatkan tanpa bicara.
'Aku ingin kamu mengatakan sesuatu. Bilang sesuatu. Bilang. Aku nggak bisa mendengar apa yang kamu mau bilang. Bilang sesuatu, biar keluar semua yang dari tadi ingin menyembur. Menetes sampai habis nggak bersisa.'
Kamu diam. Aku tidak berani melihat wajahmu.
'Kenapa menunggu? Mulailah bicara. Akan aku tunggu sampai kamu bilang. Aku akan diam sampai aku dengar apa yang bisa aku dengar.'
Ah, kamu mulai bicara.
'Jangan berhenti, tolong. Maaf karena aku pernah berbuat aneh. Mereka bilang aku aneh. Saat ini pun bicaraku melantur, kata-kataku nggak tersusun rapih. Tapi aku percaya, ada orang yang akan mengerti. Kalau saja mau mendengar lebih lama, pasti akan mengerti. Aku akan sangat berterima kasih.'
'Kenapa diam saja? Jangan diam lagi. Teruskan lagi, aku ingin dengar lagi.'
Aku berhenti bertanya, karena kamu tidak juga menjawab pertanyaanku. Mungkin karena saat itu kamu tidak bisa dengar. Mungkin aku tidak sadar hanya mengucapkannya dalam hati.
Kamu tidak lagi bicara. Aku berhenti meminta.
Waktu terus berjalan, kita terus menikmati penangkap mimpi kita masing-masing...
Pada akhirnya, waktu menelan habis semua dialog yang malam itu terlempar ke udara. Akan aku ingat, sebuah meja di ujung ruangan. Akan aku ingat rasanya diam dengan kepala penuh isi hingga terasa ringan. Aku akan ingat desing baling-baling yang mengiringi perbincangan kita, kemudian berhenti tiba-tiba; seperti kata-kata yang segera menguap selepas kita bicara.
Aku terus mengikuti langkahmu, hingga suatu saat aku punya keberanian untuk bicara sepertimu. Tapi malam itu, kubiarkan kalimatku larut dalam suara dengung lampu yang mengiringi langkah kita kembali ke realita.
